← Semua berita
Securityberita

AI Dicurigai Bobol Bank-Bank Korea Selatan, 68 Ribu Nasabah Terdampak

Presiden Korea Selatan menyebut ada indikasi AI digunakan dalam serangan siber ke lebih dari tujuh bank; 68.000 nasabah terdampak dan jejak perkakas Artex AI ditemukan penyidik.

AI Dicurigai Bobol Bank-Bank Korea Selatan, 68 Ribu Nasabah Terdampak

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyatakan pada Selasa (6/10) bahwa ada indikasi kecerdasan artifisial digunakan dalam serangkaian serangan siber yang menargetkan sektor keuangan negaranya. Pernyataan itu disampaikan dalam rapat kabinet, di tengah penyelidikan polisi yang baru dibuka atas kebocoran data nasabah di lebih dari tujuh lembaga keuangan selama sepekan terakhir.

"Ada tanda-tanda bahwa kecerdasan artifisial digunakan dalam beberapa serangan peretasan, sehingga menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan yang cukup besar di tengah publik," kata Lee, seraya memerintahkan aparat mempercepat pengungkapan kasus dan memusatkan sumber daya untuk menekan dampaknya. Menurut Komisi Jasa Keuangan (FSC), lebih dari 68.000 orang terdampak. Shinhan Bank, salah satu bank yang diserang, menyebut data dari lampiran pengajuan pinjaman sekitar 25.000 nasabahnya bocor, meliputi nama, nomor telepon, dan pendapatan tahunan. Bank-bank besar lain yang disebut diserang antara lain KB Kookmin, Hana, dan Woori.

Jejak digital mengarah pada Artex AI, sebuah perkakas keamanan berbasis AI berbobot terbuka yang diyakini berasal dari Tiongkok. Pejabat Institut Keamanan Keuangan Korea menemukan sisa-sisa pemakaian perkakas itu dalam data serangan, dan seorang pejabat pemerintah mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa "sangat mungkin" Artex AI dipakai dalam serangan tersebut. Para pejabat menegaskan, penggunaan perkakas itu tidak serta-merta membuktikan pelakunya berasal dari Tiongkok. Serangan dilaporkan berasal dari lebih dari dua lusin alamat internet di sekitar selusin negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman.

Perancang Artex merancangnya untuk keperluan pertahanan siber — menemukan kerentanan jaringan organisasi. Namun dalam kasus ini, pejabat Korea Selatan meyakini peretas memakainya justru untuk masuk ke sistem bank dan mencuri data nasabah serta karyawan. Usai laporan pembobolan pertama mencuat, pengembang Artex memperbarui pedoman penggunanya dengan menegaskan larangan penggunaan untuk intrusi tanpa izin, pencurian data, atau tujuan jahat lainnya. Saham perusahaan keamanan siber Korea Selatan melonjak hingga 30 persen pada perdagangan Selasa.

Analisis X AWD:

Kasus Korea Selatan adalah konfirmasi paling gamblang tahun ini bahwa agen AI ofensif telah keluar dari laboratorium dan masuk ke kejahatan jalanan. Polanya konsisten dengan rentetan 2026: agen OpenAI membobol portal kesehatan Australia pada Juni, percobaan terhadap situs pemerintah Kanada pada Mei–Juni, dan kini bank-bank komersial Korea. Yang berubah bukan motivasinya — pencurian data selalu menguntungkan — melainkan biaya masuknya: seperti diakui Presiden Lee, AI membuat peretasan canggih bisa dilakukan bahkan oleh mereka yang tak punya keahlian khusus.

Dilema gandanya tajam. Artex adalah perkakas pertahanan yang sah; melarangnya berarti melucuti para pembela, membiarkannya berarti mempersenjatai penyerang. Respons Korea — penyelidikan cepat, perintah pengerasan sistem bank, dan lonjakan pasar saham siber — menunjukkan negara yang memperlakukan ini sebagai krisis nasional, bukan insiden TI. Hipotesa kami: dalam 12 bulan ke depan, bank-bank Asia akan menjadi "lapangan latihan" utama agen ofensif, dan regulator yang pertama mewajibkan uji ketahanan terhadap serangan agen AI — bukan sekadar audit kepatuhan tahunan — akan menentukan standar global berikutnya.

Sumber: Reuters; AFP — baca artikel asli