Blast Tutup Layer-2 Ethereum, Pengguna Wajib Tarik Aset Sebelum 26 Oktober
Blast mengumumkan penghentian jaringan layer-2 Ethereum-nya karena biaya operasi melampaui pendapatan; TVL anjlok 98% dari puncak US$2,2 miliar dan pengguna wajib menarik aset sebelum 26 Oktober 2026.
Blast, jaringan layer-2 Ethereum yang didukung firma modal ventura Paradigm, mengumumkan akan menghentikan operasinya. Pengumuman yang disampaikan melalui akun X resmi pada 2 Oktober 2026 itu menyebut biaya menjalankan rantai tersebut kini melampaui pendapatan yang dihasilkan, dan tim tidak melihat jalan yang kredibel menuju keberlanjutan ekonomi. Pengguna diminta menarik seluruh asetnya ke jaringan utama Ethereum sebelum 26 Oktober 2026.
Skala kejatuhannya tergolong dramatis. Blast pernah mengumpulkan pendanaan 20 juta dolar AS dari Paradigm dan Standard Crypto, dan sebelum peluncuran mainnet pada Februari 2024 jaringan ini menampung lebih dari 2 miliar dolar AS. Menurut data DeFiLlama yang dikutip sejumlah media, nilai total yang terkunci (TVL) di sektor DeFi-nya anjlok lebih dari 98 persen sejak puncak sekitar 2,2 miliar dolar AS pada Juni 2024, hingga tersisa sekitar 32 juta dolar AS saat pengumuman.
Proses penarikan dilakukan bertahap. Tim akan lebih dulu menarik aset Lido yang menjadi penopang imbal hasil bawaan jaringan, sebuah proses yang diperkirakan memakan waktu sekitar satu minggu, di mana penarikan pengguna untuk sementara tidak tersedia. Setelah itu penarikan dibuka kembali dengan jeda yang dipangkas menjadi 24 jam. Pengguna dapat menarik aset melalui antarmuka normal hingga 26 Oktober 2026; sesudahnya dana hanya bisa dipulihkan dengan berinteraksi langsung ke kontrak bridge Blast di lapisan satu Ethereum, dan tim berjanji menerbitkan panduan rinci sebelum tenggat. Blast juga memperingatkan soal penipuan, meminta pengguna waspada terhadap akun yang menyamar sebagai Blast.
Blast pernah menjadi primadona dengan model imbal hasil bawaannya yang otomatis mengalirkan hasil staking ke pemegang aset, sebuah formula yang menyedot lebih dari 2 miliar dolar AS sebelum mainnet diluncurkan. Penutupan ini menandai berakhirnya era "mesin imbal hasil" di kalangan layer-2, di tengah persaingan dengan rantai-rantai yang didukung bursa besar.
Analisis X AWD: Penutupan Blast adalah studi kasus ekonomi layer-2 yang jujur. Banyak rantai layer-2 hidup dari subsidi insentif dan narasi, bukan dari pendapatan biaya transaksi yang nyata. Begitu insentif surut dan volume pergi, aritmetika biaya menjalankan sequencer, infrastruktur, dan tim menjadi tak terhindarkan. Hipotesis redaksi: konsolidasi layer-2 akan berlanjut, dan yang bertahan adalah rantai dengan distribusi bawaan, seperti milik bursa atau aplikasi raksasa, atau rantai yang memang menjadi rumah bagi satu aplikasi dominan. Bagi pembaca di Indonesia yang masih menyimpan aset di Blast, pesannya praktis: tarik sebelum 26 Oktober melalui jalur resmi, dan jadikan ini pengingat bahwa angka TVL yang besar tidak menjamin sebuah jaringan akan abadi.
Sumber: CryptoRank / PlayToEarn — baca artikel asli